Menakar Politik AKD Sumenep

BENARKAH AKD Sumenep bakal ikut kontestasi di Pilkada Sumenep 2024?

Jika iya. Bagaimana kekuatan politik AKD di level kabupaten?

Benarkah AKD bisa menjadi mesin penggerak suara?

Begitu pertanyaan yang kerap mengemuka pasca Miskun Legiyono, Ketua AKD (Asosiasi Kepala Desa) viral dikabarkan bakal digandeng sebagai Cawabup dari incimbent Achmad Fauzi.

Dan banyak pertanyaan lain yang tak perlu dipublish di sini.

Pertanyaan di atas sebenarnya standart. Normatif.

Hanya saja. Pertanyaan itu muncul ketika tiba-tiba AKD digambarkan sebagai kekuatan politik baru di Sumenep.

Anda pasti setuju jika kekuatan politik di Sumenep adalah kultur. Yaitu, pesantren yang mengitarinya.

Namun, 25 tahun Demokrasi Indonesia berlalu pasca reformasi. Geopolitik mengalami dinamika bahkan bermetamorfosis pada identitas politik baru.

Itu sejak politik bermadzhab demokrasi liberalis diterapkan saat pemilihan legislatif. Suara terbanyak dia pemenangnya.

Nah.

Bagi yang hendak masuk ke alam politik demokrasi liberal. Siap-siap berhadap-hadapan. Karena sudah jadi arena tarung bebas.

Tak kenal saudara. Juga tak kenal guru murid.

Adagium bhapa’ babhu’ ghuru rato yang seperti fatwa kehidupan mulai luntur jika dibawa ke ranah politik.

Menurut pengamat politik UGM, Gaffar Karim, adagium bhapa’ babhu’ ghuru rato sudah tak lagi releven bila diterapkan dalam kehidupan politik praktis saat ini.

Gaffar Karim kelahiran Sumenep. Saya sempat wawancara dulu.

BACA JUGA :  Selamat Tinggal Kiai

Beberapa waktu lalu. Sengaja saya wawancara via WhatsApp. Bertanya kondisi politik Madura. Termasuk masa depan dan nilai-nilai Madura bila dihadapkan dengan sistem politik saat ini.

Kata Gaffar, nilai-nilai bhapa’ bhabu’ guru rato terlalu profan. Private. Tak bisa dipaksa hadir dalam kehidupan yang kapitalis liberalis.

“Biarkan nilai-nilai itu cukup diterapkan sebagai practical values di semua aspek kehidupan. Dan menjadi guiding principle sebagai orientasi dasar masyarakat Madura,” tulisnya via WhatsApp.

Gaffar menyebut, istilah bhapa’, bhabu’, guru, rato itu sangat komunitarian. Sementara, Pemilu dan Pilkada cenderung libertian. Prinsip one person, one vote, one values dalam pemilu sangat liberal.

Ditambah, kehidupan masyarakat Madura yang terus bergerak dan berubah.

Masyarakat Madura emang sudah banyak bertransformasi. Itu seiring perkembangan situasi dan kondisi.

Kehidupan sehari-hari orang Madura selalu bergerak dan berubah. Nilai-nilai dasar kehidupannya sudah tak melulu berkiblat ke guru (kiai).

Saya teringat catatan beberapa bulan lalu di kanal catatanhambali.

Saya menulis begini:

Donald Trump. Tak pernah berkarir di partai politik. Hanya sebagai anggota Partai Republik pada 2009.

Sepanjang hidupnya. Trump milih konsern di dunia bisnis real estate, olah raga, dan hiburan.

Publik mengenal trump sebagai tokoh kontroversial yang triliuner (mengganti istilah miliarder). Dengan jaringan usahanya di mana-mana.

Komentar