Menu

Menakwil Mas Muwafiq (1)

Menakwil Mas Muwafiq (1)
Ilustrasi Menakwil Mas Muwafiq. (Foto Design by A. Warits/Mata Madura)
Link Banner

Oleh: Gus Muhammad al-Fayyadh bin Malthuf Nurul Jadid Paiton*

Ini sekadar butir-butir ringkasan dari pengamatan alfaqir secara pribadi dan cara cepat tanggapan atas merebaknya kontroversi ceramah Maulid Nabi oleh Mas Ahmad Muwafiq (MAM).

1/

Satu fragmen dari ceramah MAM pada momen pengajian Maulid yang kontroversial itu, secara retoris dan melihat substansinya, memang keliru, dan bukan saja tak tepat. Lihat mimik wajahnya, ada kesan menyepelekan dan mengentengkan (istikhfaf) terhadap “khilafiyah” (perbedaan pendapat/perbedaan versi riwayat) mengenai sejumlah aspek dari Kelahiran Rasulullah Muhammad (shallallahu ‘alahi wa sallam). MAM menafikan dan mementahkan pendapat-pendapat ulama seputar, pertama-tama, adanya pancaran sinar pada jasad Rasulullah kala lahir. Ia bahkan tidak melakukan takwil sufistik atau metafisik atas “cahaya” tersebut—yang sebenarnya sangat mungkin kalau melihat posisinya sebagai “budayawan” NU. Ekspresi wajahnya kala mengisahkan semua itu memang menyinggung, dan sungguh tak patut. Bukan cerminan adab selayaknya orang yang menyitir Rasulullah. Tidak ada “‘ayn at-ta’dhiim” (raut penghormatan) terhadap nama Nabi. Itu tinjauan bahasa mimik dan retoris.

Dilihat dari substansinya, ada beberapa poin yang dipermasalahkan.

Satu, soal ada-tidaknya cahaya Nabi pada momen kelahiran.

Dua, soal kondisi Nabi di masa kanak-kanak yang pernah “rembes” (kata ini kemudian menjadi multitafsir).

Tiga, soal kondisi masa kanak-kanak Nabi yang disebut-sebut tidak begitu terurus oleh kakeknya, Sayyidina Abd Muththalib r.a.

Mengenai soal pertama, ada peluang dari penceramah untuk mengeksplorasi dimensi-dimensi “cahaya” pada momen persalinan ibunda Rasulullah, Sayyidah Aminah r.a., dengan penalaran logis, filosofis, atau metafisik, bahkan metaforis (sastrawi) yang memungkinkan pendengarnya menghayati momen kelahiran itu dengan intelektualitas yang kaya dan sarat emosi bahkan spiritualitas. Namun, itu tidak dilakukannya. Dengan gaya “realisme vulgar”, artinya memaknai sesuatu hanya pada objeknya yang fisik dan empiris, MAM memaknai cahaya sebagai “sinar” yang bisa dilihat dan diukur secara fisik. Ini vulgar, dan tidak memadai menggambarkan kekayaan nuansa pada momen kelahiran suci tersebut. Memang, salah satu di antara riwayat bersanad Shahih yang kita terima mengenai hal ini adalah hadits riwayat ‘Irbadh bin Sariyah r.a., yang mengandung kata-kata Rasulullah menyifati kelahiran beliau:

ورؤيا امي التي رأت

“dan mimpi ibundaku yang melihat (sesuatu pada saat kelahiranku)”.

Yang diberi penjelasan oleh Sayyidina ‘Irbadh:

وان ام رسول الله ﷺ رأت حين وضعته نورا اضائت له قصور الشام

“Dan ibunda Rasulullah (shallahu ‘alaihi wasallam) (bermimpi) melihat cahaya, kala melahirkannya, yang membuat gemerlap istana-istana Syam” (HR Ahmad, Ibn Hibban, dan Al-Hakim dengan sanad Shahih pada riwayat Ahmad).

Dari sinilah kita mengenal kekayaan narasi yang disajikan para ulama pengarang kitab Maulid. Seperti kata-kata Imam Abdurrahman Ad-Diba’i :

فاشرق ببهائه الفضا وتلألأ الكون من نوره واضا

“Maka memancarlah dengan pesonanya medan luas (dunia dan hamparannya), dan alam semesta menjadi gemerlap dari cahayanya dan bersinar”.

Atau kita mengenal dalam kitab Maulid Imam al-Barzanji yang sangat populer redaksi berikut:

وتدلت اليه ﷺ الأنجم الزهررية , واستنارت بنورها وهاد الحرم ورباه , وخرج معه نور اضائت له قصور الشام القيصرية , فرأها من ببطاح مكة داره ومغناه

“dan mendekatlah kepadanya (Rasulullah) bintang-bintang (Sayyidah Aminah) Az-Zuhriyah; pelataran-pelataran tanah Haram dan pelosoknya menjadi terang; dan bersama (kelahirannya) keluar cahaya yang membuat gemerlapan istana-istana kekaisaran Syam; maka melihatnya orang-orang di lembah Makkah, negeri dan tempat kecukupannya”.

Apakah narasi-narasi ini mengada-ada, seperti terkesan dari penilaian MAM pada satu sesi pendek ceramahnya tersebut? Ini bisa jadi duel intelektual dan ruhani menarik antara MAM dan para pengarang kitab Maulid, sepeti Imam ad-Diba’i atau al-Barzanji, yang pastinya bukan orang sembarangan dan memiliki “bashirah” (mata batin) dalam memaknai kelahiran Nabi (rata-rata para pengarang Maulid adalah para ulama yang masyhur telah berkali-kali mengalami mimpi bertemu atau ditemui Rasulullah). Tapi baiklah, kalau kita tidak mampu “menerawang” ke dalam sisi itu, kita ambil pemaknaan atas makna “cahaya” dan “melihat” dalam teks-teks itu. (Bersambung…)

*Alumni PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.

Bagikan di sini!
KOMENTAR

3 Komentar

Iklan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Hukum dan Kriminal

Pilkada 2020

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: