Menu

Metamorfosis al-Ghazali; Dari Filsuf Menuju Sufi (10)

Metamorfosis al-Ghazali; Dari Filsuf Menuju Sufi (10)
ilustrasi
Link Banner

Oleh: Jazuli Muthar*

matamaduranews.com-Dari praktek yang  dialami al-Ghazali, uzlah dimaksud adalah kosentrasi hati dan pikiran untuk selalu bersama Allah Swt. Berarti, si salik tidak harus menyepi dalam gua atau bertempat tinggal di desa yang jauh dari keramaian. Bisa jadi uzlah dimaksud al-Ghazali adalah sepi dari keramaian (seppe e rammena, Madura, Red.).  Lain kata uzlah dimaksud keluar dari hiruk pikuk syahwat duniawi.

Annemarie Schimmel dalam Mystical Dimensions of Islam menyebut, keberadaan tasawuf dari awal kehadirannya hingga kini tidak lepas dari pemahaman yang rancu dan parsial. Sang orientalis ini menilai sejumlah kelompok tergolong tidak mampu menjelaskan secara utuh bagaimana sebenarnya kehadiran madzhab tasawuf dalam Islam. Deskripsinya tentang tasawuf dinilai sepotong-potong.

Annemarie meibaratkan orang-orang buta menyentuh gajah dan menjelaskan panjang lebar kepada orang-orang buta. Sehingga orang buta satu sama orang buta lainnya memiliki deskripsi berbeda sesuai dengan bagian tubuh gajah yang disentuh. Ada yang menyebut gajah itu seperti kipas, sebagian menepis gajah seperti mahkota, pendapat lain menyebut gajah seperti tiang, dan tidak ada satupun orang buta bisa membayangkan gajah seutuhnya.

Tamsil orang buta menilai gajah di atas bisa menjadi gambaran tentang keberadaan tasawuf yang menjadi kontroversi dari awal kehadirannya hingga saat ini. Padahal, orientasi ajaran tasawuf secara ideal merupakan penjabaran dari sumber Islam (al-Qur’an), seperti, Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.  Bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.  Dia (Allah) tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui, dan sebagainya.

Tasawuf bagi Al-Ghazali merupakan elaborasi ilmu, amal dan sifat terpuji bagi salik (pejalan) yang akan meraih makrifatullah. Dia harus melalui tanjakan-tanjakan ruhani dengan ilmu tasawuf dan bimbingan seorang guru spiritual. Selain itu, al-Ghazali menyebut para salik harus terlebih dahulu membersihkan hati dari akhlak tercela. Sehingga hati para salik (pejalan) menjadi kosong dengan banyak ingat Allah (dzikrillah).

Untuk membersihkan hati dari akhlak tercela, al-Ghazali memberi syarat utama yang harus dilakukan salik. Al-Ghazali menyebut langkah uzlah (menyendiri atau menyembunyikan dari keramaian) sebagai awal melatih hati untuk selalu ingat kepada Allah Swt. Tentu, sikap uzlah dimaksud al-Ghazali, masih dalam bimbingin guru spiritual yang bisa memonitor secara bathiniyah hasil lakunya atau perkembangan murid.

Memang konsep atau pemikiran tasawuf al-Ghazali merupakan  hasil praktek kesufian yang ia lalui pasca keluar dari dunia selebritas. Sehingga apa yang ia lakukan dan meraih hasil dari amaliyahnya, diceritakan kepada para muridnya. Hasil kisahnya, dirumuskan dalam sejumlah kitabnya, seperti Misykat al-Anwar, Mi ‘raj as-Saalikhin, Ihya’ Ulumuddin, Al-Munqidz min al-Dhalal, dll.

Uzlah bagi al-Ghazali merupakan tangga pertama yang harus dilalui para salik sebelum melangkah tangga-tangga berikutnya untuk mencapai atau merai Nur Ilahi. Dan al-Ghazali tidak menjelaskan secara rinci formula uzlah dimaksud. Termasuk batas waktu uzlah.

Bersambung…..

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Iklan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Kerapan Sapi

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional