Menu

Metamorfosis al-Ghazali; Dari Filsuf Menuju Sufi (12)

Metamorfosis al-Ghazali; Dari Filsuf Menuju Sufi (12)
ilustrasi
Link Banner

Oleh: Jazuli Muthar*

matamaduranews.com-Al-Ghazali menyebut tangga maqamat meliputi uzlah, khalwat, riyadlah (olah jiwa) dan mujahadah (sungguh-sungguh).

Hal ini perlu dilakukan salik sebelum merasakan (dzauq) dari hasil amaliahnya.  Kata al-Ghazali, saat khalwat seorang salik akan menemukan rahasia yang tak terhingga sebagai tahap awal menuju musyahadah (penyaksian yang Haq). Kemudian meningkat pada mukasyafah (tersingkapnya hijab).

Walau dalam keadaan sadar, jelas al-Ghazali, si salik akan bertemu para malaikat, arwah para Nabi dan Rasul kemudian naik pada tingkatan lebih tinggi yang tidak bisa dilukisakan dengan kata-kata, yaitu makrifatullah.

Konsep maqamat yang dirumuskan al-Ghazali berbeda dengan Ibnu Athaillah yang merumuskan sembilan (9) maqamat (station) yang perlu ditempuh para salik agar bisa sampai (wushul) kepada Allah Swt. Yaitu; tobat, zuhud, shabar, syukr, khauf, raja’, ridla, tawakkal, dan mahabbah.

Bisa jadi perbedanaan konsep maqamat terletak dari definisi yang berasal dari masing-masing pengalaman yang berbeda antara al-Ghazali dan Ibn Athaillah.

Seperti diketahui, al-Ghazali memasuki dunia tasawuf setelah sang adik, Ahmad al-Ghazali, nggan bermakmum dalam shalat waktu sang al-Ghazali menjadi imam.

Dalam pemikiran al-Ghazali, ilmu pengetahuan yang dikuasai selama ini sebatas ilmu wacana, bukan ilmu sejati yang mengantarkan dirinya mengenal Allah Swt.

Karena itu, al-Ghazali beralih dari dunia intelektual ke dunia sufi yang diawali dengan sikap uzlah melalui bimbingan guru spiritual yang ditunjukkan oleh sang adik, Ahmad al-Ghazali.

Ibnu Athaillah memasuki dunia sufi melalui tahapan taubat karena sebelum memasuki dunia tasawuf. Beliau melalui perjalanan sebagaimana dijelaskan dalam kitab Lathaif al-Minan.

“Kakek saya tidak setuju dengan dunia tasawuf. Kakek saya fanatik pada ilmu fiqih,” tulis Ibn Athaillah dalam kitabnya.

“Dulu termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, sebelum menjadi murid beliau,” testimoni Ibnu Athaillah.

“Pendapat saya waktu itu bahwa yang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya,” .

Bersambung..

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Budaya

Kerapan Sapi

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional