Menu

Pelan…Pelan…Kita…Mati (PPKM)

Pelan…Pelan…Kita…Mati (PPKM)
Satlantas Polres Demak Jawa Tengah memeriksa setiap kendaraan yang masuk ke Kota Demak saat melakukan penyekatan di pertigaan Bogorame Jalan Sultan Fatah Demak, Selasa (6/7/2021) sore.(KOMPAS.COM)

matamaduranews.com-Video unggahan  ‘diobrak abriknya‘ pedagang di beberapa group WhatsApp beberapa hari ini yang terjadi di Purwokerto, Banyumas dan peristiwa di tempat lainnya, sangat viral dan punya daya pikat mendalam, karena sangat human intrest.

Video itu kemudian diisi narasi yang menyentuh oleh pria muda yang tidak saya kenal, dengan nada memelas dan mengiba: dengan berisi kritik, harapan dan permintaan.

Di Indonesia sekarang sedang berlangsung yang namanya PPKM-dari sudut Pemerintah adalah; Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat.

Tapi dari sudut pandang rakyat kecil atau rakyat jelata; PPKM adalah “Pelan Pelan Kita Mati,” ujar pri tampan itu.

Dia lalu mengisahkan tentang prilaku petugas yang mengobrak abrik dagangan milik rakyat, mereka dibentak-bentak, disemprot dan melarang berjualan di masa PPKM Darurat.

Padahal koruptor yang merugikan uang negara, belum tentu diperlakukan seperti itu.

Buat para pemerintah yang saya hormati.

Mohon maaf atas kelancangan saya. Saya hanya ingin mewakili rakyat kecil yang sangat dirugikan.

Saya hanya ingin bertanya apaka dengan adanya peraturan ini, apakah karena benar benar kepedulian Anda kepada rakyat?

Apakah tidak ada maksud lain?.

Kalau adanya peraturan ini atas kepedulian anda kepada rakyat. Tapi kenapa seolah-olah makin menyengsarakan rakyat?

Jujur hati saya perih, sakit sekali, melihat video di medsos; rakyat kecil yang mencari rejeki untuk menyambung hidup diperlakukan tidak adil.

Saya yakin se yakin yakinnya ; mereka bukan tidak mau mengikuti peraturan yang bapak buat.

Mereka bukannya ngeyel Pak. Tapi karena mungkin karena mereka dalam keadaan dilematis.

“Jika mereka tidak jualan dari mana mereka dapatkan uang untuk makan dan untuk nefkah keluarganya, dan mungkin itu satu satunya mata pencaharian mereka,“ ujar pria itu yang disampaikan dengan lugas, tenang dan lancar.

Narasi anak muda itu yang masih cukup panjang dalam videonya, sesungguhnya memukul Presiden dan para pembantunya hingga di tingkat desa, bila gunakan hati dalam menyimaknya.

Peristiwa yang disipkan dan ditayangkan dalam video itu, tidak hanya terjadi di Purwokerto dan Banyumas.

Namun selaksa kidung duka rakyat menggemma dan raungnya hampir memenuhi langit se antero Jawa-Bali.

Desah nafas rakyat kini tengah tersengal-sengal, mereka mengatur dan menghemat setiap tarikan nafas agar tetap hidup aman.

Hari ini mereka bisa makan, adalah sebuah keberuntungan besar, meski beras dan lauk pauk didapat dari ulurang tangan.

Besok, belum tentu ada keberuntungan yang sama. Mereka dari hari ke hari menggantang asap, menghitung rusuk-rusuk kayu rumahnya yang telanjang dan sebagian telah dimangsa rayap.

Memang rakyat NKRI hari ini, lebih sulit dari era sebelumnya. Di samping dalam ancaman virus yang mengganas, rakyat sulit dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan masih ditambah beban beaya pendidikan anak-anak mereka-yang sepenuhnya belum dibebaskan oleh pemerintah.

Entah dengan dalil Komite Sekolah, atau dengan dalih se suka-sukanya mereka memungut uang kepada siswanya.

Gambaran kesulitan ini banyak kita temukan di Pulau Jawa mungkin juga di Bali, karena media dan medsos menggambarkannya dengan terang benderang kondisi itu yang sesungguhnya.

Bagaimana dengan Sumenep?

Tak banyak saya temukan karya jurnalisme yang menjelaskan penderitaan rakyat.

Syukur jika masyarakat Sumenep hari ini, bajrah tor jejhe, Pojur tor padhe lebhur, jauh dari mate tak lebhur.

Namun siapapun akan kecewa, termasuk saya. Jika yunior saya tidak punya daya dan upaya menggambarkan potret buram kesengsaraan rakyat Sumenep. Sebab jika bukan jurnalis yang menggambarkan suasana itu, saya punya keyakinan akan salah penyampaiannya.

Kasus ditangkapnya pembuat video hoaks oleh tim gabungan resmob Polres Sumenep, soal korban vaksinasi Sinovac (bongkar 86.com). Saya yakin bukan sesuatu yang disegaja oleh pembuatnya. Bisa jadi si pembuat kurang memahami kaidah jurnalistik. Ia hanya ingin mewakili publik, bahwa ada peristiwa kematian yang ‘diakitkan-kaitkan’ dengan penyutikan vaksin C19.

Andai kata insan jurnalis yang menulis, maka maknanya bisa jauh berbeda dengan yang ‘amatiran’.

Sebab teori pengendusan dan pembuatan pemberitaan, hanya milik para jurnalis yang terdidik dan terlatih.

Sebab kajian medis memang dapat membenarkan, bahwa bagi lansia yang memiliki penyakit bawaan yang akut, (komorbid) tidak bisa disuntik dengan vaksin C19, sebelum ada telaah medis.

Sebab jika dipaksakan akibatnya adalah kematian. Artinya bisa saja terjadi kematian akibat penyuntikan vaksin C19, jika tidak memenuhi standart medis.

Berita-berita tentang adanya warga yang mati setelah di vaksin C19, memang banyak kita dengar di medsos. Tapi berita itu tidak bisa diverifikasi/ditelusuri oleh insan jurnalis, sehingga menjadi berita ‘gentayangan’.

Peran Pers yang jujur, independent ,tangkas dan lugas hari ini ditunggu rakyat.

Mereka berharap jurnalis tetap berdaya dengan situasi sulit ini. Dan wartawan tetap menggambarkan seluruh isi ‘perut’ Madura dengan sejujur-jujurnya, agar rakyat mengetahui apa yang tengah terjadi.

Tentu rakyat berharap jurnalis tidak ‘diam dan sembunyi’ dari hiruk pikuk pandemik ini; apalagi mau dibungkam.

Kabar-kabarilah rakyat agar mereka segera mengambil sikap untuk saling bahu-membahu satu sama lainnya.

Saya yakin mustahil kawan- kawan sengaja ‘diam dan sembunyi’. Para jurnalis Sumenep pernah menorehkan sejarah ketika menggebuk habis-habisan kasus pengadaan Bus Pemda, Miss Pemda di Surabaya, izin BPRS, DAU dan PT WUS.

Action jurnalis hari ini memang perlu dengan semangat ‘plus-plus-plus’ dalam kehadirannya. Sebab yang dirasa masyarakat hari ini mulai apatis, skeptis dan ingin menjauh dari keterlibatan dirinya dengan orang lain.

Sikap ini amat berbahaya dalam berbangsa dan bernegara.

Saya masih sangat yakin, profesionalitas yunior saya yang dulu masih sempat satu periode dengan saya di PWI Sumenep; misalnya Alan Syahlan (Hr. Bangsa ), Hartono (Bos Portal Madura ) Temi Andani (BeritaJatim.Com ) Rony (Bos PWI Sumenep) Dayat ( Antara ), Hambali ( Bos Mata Madura ) serta lainnya; seperti Veros (Tv One ), Rahmat ( Metro on Line ), Rahman (Trans TV ), Ainur Rahman ( Jatim Relasi Publik.Com ) dan kawan-kawan jurnalis televisi, cetak, online yang tak banyak saya kenal hari ini, setelah saya tinggalkan dunia jurnalis lima belas tahun silam.

Mereka masih memilik sens of crisis di masa pandemik ini. Mereka memiliki jam terbang cukup, piawai dan berintegritas.

Untuk membelalakkan mata dan memberitakannya sesuai dengan kaidah jurnalisme. Bagi rekan-rekan, hal itu tergolong ‘ghudir ‘. Karena mereka masih ‘jago’.

Kisi-kisi pemberitaan hari ini luas menghampar, berbagai pertanyaan menggumpal di atas awan hitam sana, tak ada yang mampu mengurai dan menjelaskan tentang hal ini di Sumenep :

Kita tidak tahu tiap hari berapa orang yang wafat karena Covid-19?

Kita juga tidak mengerti berapa orang yang terpapar Covid-19 hari ini?

Kita juga tidak paham berapa yang sembuh dari Covid-19 update per hari?

Kita tidak mengerti seberapa dalam penderitaan masyarakat hari ini.

Kita tidak tau apakah BLT DD sudah disalurkan?

Kita tidak membaca berita, berapa KK yang sudah tercover dana Covid-19?

Kita tidak paham bagaimana penyaluran APBD ke program Covid-19?

Kita tidak tau berapa peti mati yang dibeli Pemda?

Kita tidak tahu berapa ribu meter kain kafan yang dibelanjakan Pemda ?

Kita tidak mendengar berapa orang yang kesulitan makan?

Kita tidak tahu berapa bantuan Pusat, Propinsi dan Daerah untuk rakyat ?

Kita tidak tahu apakah semua warga juga mendapatkan bantuan ?

Dan untuk seterusnya………….

Hal itu semua menjadi tugas para jurnalis untuk mengurai benang merahnya.

Jika para jurnalis telah mengurainya dengan jujur, independent dan detail, niscaya produksi berita hoaks tidak akan terjadi.

Karena wartawan telah menyajikan informasi itu dengan jelas. Namun jika tidak terurai, maka akan menjadi puisi siang dan malam; ini menjadi beban pekerjaan baru bagi Ibnu Hajar Sang budayawan, untuk di ‘tashrifkan’.

Saya tidak ingin ada plesetan nama, profesi, singkatan atau lainnya; seperti yang ada dalam video itu.

PPKM menjadi “Pelan Pelan Kita Mati”, seperti pula yang diplesetkan publik tentang kepanjangan: UUD menjadi “Ujung-Ujungnya Duit”, KUHP menjadi “Kasik Uang Habis Perkara”, Jaksa menjadi “Kerjanya Maksa-Maksa”, Polisi menjadi “Pokoknya Pissi “, Pengacara menjadi “Pengangguran Banyak Bicara” atau “Pengangguran Banyak Acara”.

Embel- embel seperti ini bentuk kekecewaan yang patut kita hentikan !

Nah, kalau wartawan ikut diplesetkan publik, lalu menjadi seperti apa….!?

Wallahu a’lam bissawab.(J. FARUK ABDILLAH)

*Penulis adalah Wartawan Senior. Kini Pengacara Bantuan Hukum.
Ketua DPC Perkumpulan Advokat Indonesia ( PERADIN ) Sumenep. Berdomisili di Surabaya.

KOMENTAR

1 Komentar

  1. Pokemon Selasa, 13 Juli 2021

Tinggalkan Balasan

MMN

matajatim.id

Disway

Tasawuf

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: