Tellasan Topa’; Makna dan Sejarah-nya (1)

Mata Madura - 31/05/2020
Tellasan Topa’; Makna dan Sejarah-nya (1)
Tellasan topa’ yang biasa ramai digelar di tempat-tempat rekreasi. (matamadura) - ()
Penulis
|
Editor
Link Banner

matamaduranews.com-Bagi warga Madura, satu minggu setelah hari raya Idul Fitri selalu ada acara membuat ketupat dengan lauk opor ayam dan serundeng (parutan kelapa bakar). Acara tersebut biasa dikenal dengan istilah Hari Raya Ketupat (tellasan topa’).

Tradisi ini telah membudaya sejak dahulu secara turun temurun. Dalam perkembangan jaman, tellasan topa’ banyak digelar di tempat-tempat rekreasi. Kalau di Sumenep biasanya pantai Lombang, Slopeng, Mandiradhâ, Ponjuk (Talango) dan sebagainya.

Apa itu Tellasan Topa’?

Tellasan Topa’ merupakan suatu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa sejak abad ke15 Masehi. Tradisi itu merupakan unsur dakwah bagi ummat Islam yang diprakarsai oleh salah satu Walisongo yang bernama Sayyid Makdum Ibrahim yang dikenal dengan sebutan Sunan Bonang.

Acara tellasan topa’ merupakan suatu pesan yang disampaikan oleh Sunan Bonang tentang puasa dan hari raya melalui simbul-simbul budaya Jawa. Maksudnya umat Islam harus berpuasa sungguh-sungguh, agar setelah berpuasa nanti bisa menikmati kupat asal kata kaffah (kaffah, bahasa Arab = menyeluruh), yang kemudian berubah istilah menjadi Kupat / Katopa’ / Ketupat. Kupat / Katopa’ / Ketupat adalah makanan khas hari raya yang sering disebut “Katopa’ ” menjadi menu khusus disaat Lebaran.

Bentuknya dari nasi putih yang dimasak di dalam janur, (daun kelapa yang masih muda yang masih muda nan putih bersih). Kupat yang dibungkus dengan janur ini melambangkan jatining nur, yakni hati yang putih bersih karena telah beribadah puasa dengan keikhlasan dan kesungguhan selama bulan Ramadhan.

Kupat juga bisa diartikan sebagai laku sing papat atau amalan yang empat atau keadaan yang empat dianugerahkan kepada mereka yang berpuasa dengan benar, yakni lebar, lebur, luber dan labur (bahasa Jawa). Dan orang yang berpuasa dengan dengan ikhlas, iman dan ikhtisaab ketika hari raya, yang kemudian melakukan laku sing papat (amalan yang empat) yakni :

  1. membayar Zakat Fitrah (sebelum sholat ‘Iedul Fitri),
  2. membaca Takbir (dimalam ‘Iedul Fitri),
  3. bersolat ’Ied (kala hari ‘Iedul Fitri) dan
  4. bersilaturrahmi (setelah sholat ‘Iedul Fitri),

dan nanti akan mendapat empat anugerah laku tersebut, yakni :

Lebar berarti selesai melaksanakan kewajiban puasa dengan lega,

Lebur berarti terhapus semua dosa yang dilakukannya di masa lalu,

Luber berarti melimpah ruwah pahala amalamalnya,

Labur berarti bersih dirinya dan cerah bercahaya wajahnya.

Dan pada perkembangan selanjutnya acara tersebut dibawa oleh para generasi penerus Walisongo ke Madura, yakni oleh Sunan Paddusan / Raden Bendoro Dwiryopodho, (keturunan Sunan Manyuran Mandalika) dan Pagneran Katandur (cucu Sunan Kudus). Sehingga sampai saat sekarang acara tersebut telah membudaya di Madura termasuk di Sumenep.

Kita perlu kagum kepada para Walisongo sebagai penyebar agama islam di tanah Jawa. Mereka telah menerjemahkan pesan penting tentang ajaran-ajaran Islam termasuk puasa dengan bahasa dan budaya Jawa setelah menggali dari pesan aslinya yang semula disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam bahasa Arab.

Ajakan Sunan Bonang agar kita berpuasa untuk ”Menuju Jatining Nur dan meraih Laku sing Papat”   itu tidak lain digali dari Hadits Nabi ketika mengatakan ”Barang siapa berpuasa di bulan ramadhan dengan iman dan penuh kesungguhan (maka) akan diampuni segala dosanya yang telah lalu”.

Hadits tersebut oleh Walisongo diterjemahkan dengan cara Jawa, bahwa kalau kita dapat berpuasa dengan penuh keyakinan dan keteguhan sikap (iman) dan dengan penuh perhitungan serta (ikhtisaab), pada bulan bulan Syawal kita akan mendapat jatining nur, yakni hati yang putih bersih seperti janur yang menyehatkan. Ingatlah bahwa kebersihan hati akan menjadi pemelihara yang sangat ampuh bagi kesehatan rohani dan jasmani.

Jatining Nur itulah yang sejatinya disebut fitrah. Karena itu, barang siapa yang memperoleh jatining nur berarti telah kembali ke fitrah (’Iedul Fitri). Jatining nur atau hati yang putih bersih tersebut diperoleh karena semua dosa kita dimasa lalu telah dibersihkan dan diampuni oleh Allah SWT.

Nah, orang yang mendapat ampunan dari segala dosa itu serta melakukan pekerjaan / amalan yang empat (Kupat, laku sing papat) yakni Zakat fitrah, baca Takbir, Sholat ’Ied dan Silaturrahmi nanti akan berhak menikmati empat keadaan (kupat, laku sing papat). Orang yang berpuasa dengan iman dan ihtisaab akan memasuki lebar (lebaran) atau menyelesaikan tugas dengan baik. Orang yang menyelesaikan tugas puasa dengan baik akan lebur (habis) semua dosanya, bahkan orang tersebut juga menikmati luber (melimpah ruah) pahala amal-amalnya sehingga menjadi labur atau indah berseri wajahnya.

Petuah Sunan Bonang tentang jatining nur dan laku sing papat dapat kita jadikan bahan refleksi dalam beribadah puasa. Dalam setiap bulan Ramadhan, kita harus berusaha untuk melaksanakan ibadah puasa secara sungguh-sungguh agar meraih fitrah dengan jatining nur dan laku sing papat itu. Hasilnya tentu dapat dinilai dan dirasakan oleh diri sendiri nanti setelah tugas berpuasa dan bulan Ramadhan selesai.

Orang yang berpuasa berhasil pertama-tama akan ditandai oleh perubahan perilaku dari yang semula tidak baik menjadi baik dan dari yang semula baik menjadi lebih baik. Mereka yang kembali ke fitrah dengan jatining nur dan laku sing papat adalah mereka yang tawadhu’, jauh dari kesombongan, dan tidak mau bersikap sewenang-wenang atau melanggar hak-hak orang lain serta berbuat dosa lainnya.

bersambung…(Tadjul Arifien R/Sejarawan Sumenep)

1 Komentar pada “Tellasan Topa’; Makna dan Sejarah-nya (1)”

  1. Mohammad Anwar berkata:

    .mantap

Tinggalkan Komentar

Close Ads X
--> -->
%d blogger menyukai ini: