Menu

Dari Pesantren untuk Dunia: Mewujudkan Idealisme Santri untuk Perubahan Dunia

Dari Pesantren untuk Dunia: Mewujudkan Idealisme Santri untuk Perubahan Dunia
Dari Pesantren untuk Dunia: Mewujudkan Idealisme Santri Untuk Perubahan Dunia. ((By Design A. Warits/Mat Madura))
Link Banner

Menjadi seorang santri bukanlah sebuah pilihan diri sendiri, karena banyak sekali orang yang nyantri itu karena keinginan orang tua agar ia berada di pesantren. Meskipun juga ada sebagian yang memang mengidealkan pendidikan pesantren. Menjadi santri merupakan sebuah sarana untuk menikmati sebuah proses pendidikan pesantren tentang kesederhanaan. Kesederhanaan merupakan simulasi tentang kehidupan yang abstrak. Dengan bekal mental dan spiritual yang menyatu secara integratif dalam diri santri, diharapkan para santri  mampu dalam menghadapi kehidupan realitas.

Dilihat dari fungsinya, keberadaan seorang santri adalah harapan besar bagi perubahan dunia. Akan tetapi, banyak orang-orang tidak tertarik terhadap pendidikan pesantren. Bahkan enggan meletakkan anaknya karena memandang sinis pesantren. Mereka beranggapan bahwa pesantren identik dengan pendidikan yang jumud, kumuh dan terbelakang, karena kehidupan masyarakat pesantren terlihat sangat sederhana. Padahal, pikiran inilah yang keliru. Namun sayangnya, pernyataan yang keliru tersebut telah terlanjur masuk ke alam bawah sadar mereka.

Link Banner

Buku ini yang ditulis oleh para santri, yang pada saat yang sama juga alumni UIN Jakarta ini telah menjawab dugaan keliru tersebut, dengan membuktikan keberhasilannya menyelesaikan pendidikannya sampai ke luar negeri dan universitas-universitas terkemuka. Tulisan-tulisan di buku ini merupakan karya santri untuk Indonesia dan dunia. Isi dari setiap artikel di dalamnya sebagaian besar merupakan autobiografi.

Autobiografi adalah sebuah biografi yang di dalamnya menceritakan riwayat hidup atau pengalaman pribadi yang ditulis oleh dirinya sendiri. Di balik kesuksesannya, para penulis buku ini mengakui bahwa di pesantren lah tempat mereka berproses. Pesantren seperti ladang tempat bercocok tanam dan memanennya setelah berbuah besar. Para santri ini merasakan bahwa di balik kesuksesannya itu mereka rata-rata telah mempersiapkannya sejak di pesantren.

Link Banner

Prof. Dr. Komarudin Hidayat, misalnya, mengakui banyak memperoleh ide-ide berkesan itu sejak mengenyam pendidikan di pesantren daripada sekolah umum sebelumnya (Sekolah Tehnik Kanisius Muntilan) yang dirasa kurang cocok, meskipun fasilitas-fasilitas di pesantren sangat terbatas. Tempat belajarnya pun masih di serambi masjid. Begitu juga dengan asrama santri masih terlihat minimalis. Ada bangunan tua di samping masjid yang ditempati santri putri. Namun, kondisinya kotor. Termasuk kolamnya. Kata Komarudin, “Sehingga kami para santri pernah mengalami kudisan semuanya”. Lebih lanjut dia mengatakan, “kata orang tua, kalau belum pernah gatal dan kudisan, belum sah mengaku sebagai santri” (hal. 28).

Meskipun demikian, dengan keterbatasan pesantren tersebut bukan berarti membangun sebuah persepsi keliru terhadap pesantren. Mungkin di pesantren tempat Prof. Dr. Komarudin Hidayat dulu sangat terbatas, tetapi tidak demikian dengan kondisinya yang sekarang yang telah mengalami banyak perubahan. Buktinya, di pesantren lain banyak sekali yang memperlihatkan kebersihan. Sebut misalnya, “Pesantren Motivator Qur’an” yang posisinya ada di Desa Tegal Waru, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Pesantren ini memiliki visi dan misi pesantren terbersih dan terindah sedunia.

Seperti tulisan Prof. Komarudin Hidayat yang mengandung hikmah, “Menjalani hidup dengan ikhlas, mandiri, sederhana, berwawasan luas, cinta ilmu merupakan nasihat Kiai yang selalu aku dengar waktu itu” (hlm. 29). Dengan ikhlas dan sabar serta komitmen berjuang adalah modal utama seorang santri meraih apa yang ia impikan. Siapa sangka, yang dulunya kehidupan keluarga Prof. Komarudin Hidayat yang serba pas-pasan, miskin, serta terbatas secara ekonomi mampu mewujudkan impiannya? Dengan bekal tekadnya dia mampu melampaui budaya dan mimpi-mimpi keluarganya serta masyarakat sekelilingnya.

Di pesantren, para santri sudah terbiasa dengan konsistensi waktu itu. Pendidikan di pesantren pun dimulai lebih pagi dan diakhiri lebih larut malam dari pada lazimnya denyut kehidupan di masyarakat. Jadi, soal kedisiplinan dan kesabaran menjalani hidup, santri sudah cukup tangguh. Melihat padatnya aktivitas di pesantren, para santri dituntut mampu mengikuti  keseluruhan program di pesantren. Yang sangat menarik dari pendidikan pesantren ini, dan ini jarang ditemukan di sekolah-sekolah pada umumnya, adalah tentang “menjauhi sikap mengeluh”. Di sinilah, keberhasilan para santri tampak menonjol lebih cepat daripada santri-santri yang lain ketika mereka ikhlas dan sabar mengikuti kegiatan-kegiatan di pesantren.

Buku ini menarik sekali dibaca oleh semua kalangan, termaduk para santri untuk mengetahui bagaimana kisah dan perjuangan para santri yang diceritakan di dalam buku ini. Ada 17 artikel yang ditulis oleh kalangan santri, yang saat ini mereka telah menjadi orang ternama di Indonesia. Di antara mereka adalah Prof. Komarudin Hidayat, Prof. Azyumardi Azra, Muhammad Atho’ Mudzhar, Bahtiar Efendy dan beberapa nama lainnya yang juga sama hebaty. Buku terbitan Prenadamedia ini juga memiliki kesan yang asyik, di samping editor buku ini langsung Prof. Dr. Komarudin Hidayat, layout dan cover buku tersebut sangat indah sehingga membacanya tidak mudah merasa bosan. Sekian.

*) Santri Pesantren Motivator Quran Ekselensia Indonesia, Ciampea, Bogor, Jawa Barat. Pernah belajar di UIN Jakarta.

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

MMN

Disway

Catatan

Budaya

Tasawuf

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: