Gaya Hidup

Nobar Film Hati Suhita, Bunda Fitri Ingin Memperkenalkan Perempuan Pesantren Yang Kuat dan Sabar

×

Nobar Film Hati Suhita, Bunda Fitri Ingin Memperkenalkan Perempuan Pesantren Yang Kuat dan Sabar

Sebarkan artikel ini
Nobar Film Hati Suhita
Salah satu adegan film Hati Suhita

matamaduranews.com-Film Hati Suhita benar-benar menghipnotis penonton. Banjir air mata menghiasi alur cerita perjalanan asmara Alina Suhita. Emosional penonton larut.

Suasana riuh Studio I Bioskop New Star Cineplex (NSC) Ultima Sumenep menggema dengan suara penonton. Selasa pagi, 30 Mei 2023. 240 kursi studio full dengan penonton yang
diinisiasi Bunda Fitri.

Istri mantan Bupati Sumenep KH Busyro Karim ini sengaja membuka pendaftaran nonton bareng (nobar) film Hati Suhita bagi warga Sumenep. Lewat medsos, Bunda Fitri membuka pendaftaran nobar secara online.

“Dalam tempo 30 menit. Pendaftar sudah mencapai 210,” cerita Bunda Fitri kepada wartawan sebelum acara nobar digelar.

Nobar Film Hati Suhita
Pamflet Nobar Film Hati Suhita yang diinisiasi Bunda Fitri. Antusiasme masyarakat Sumenep tak terbendung yang dibuktikan dalam tempo 30 menit pendaftar sudah mencapai 210 orang.

Antusiasme tak terbendung untuk nobar. Mereka ingin menyaksikan film yang disadur dari novel best seller karya Khilma Anis. Film ini mengambil 85 persen di lingkungan pondok pesantren. Alur ceritanya begitu kuat

Film Hati Suhita seperti mengobati kerinduan penikmat film religi. Alur ceritanya kuat terasa dekat dengan lingkungan pesantren.

Film yang disutradai Archie Helagery ini sengaja mengambil susana pondok pesantren. Syuting film ini diambil di sembilan kota, di antaranya Bogor, Salatiga, Kediri, dan Mojokerto.

Film bercerita tentang kisah kegigihan seorang perempuan Alina Suhita yang tak dinyana menikah dengan Gus Birru yang super dingin akibat cinta yang dijodohkan.

Riuh penonton menggema ketika adegan antara Abu Rayyan Albirruni atau Gus Birru dengan Neng Alina Suhita berada di dalam kamar.

Penonton Nobar didominasi perempuan milenial. Ada juga kaum emak-emak yang terlihat akrab dengan Bunda Fitri.

Salah satu penonton ikut kesal. Terbawa terbawa perasaan dengan sikap dingin Gus Birru kepada Neng Alina. Sebab, putra tunggal pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar itu tidak pernah menyentuh Neng Alina selama beberapa bulan pasca menikah.

Namun, adegan sahabat Alina Suhita, Aruna sesekali membuat tawa penonton pecah. Begitu juga saat Rizal, Zaki, dan Ratna Rengganis bermain ke rumah Gus Birru.

Penonton terlihat senang melihat Gus Birru seperti salah tingkah melihat Alina menyapa Rengganis, mantan pacarnya.

Bunda Fitri terlihat sumringah melihat penonton menghayati alur film Hati Suhita. Anggota DPRD Jawa Timur yang kini lagi digadang bakal nyalon Bupati Sumenep di Pilkada 2024 nanti, berencana akan mengagendakan kembali Nobar Film Hati Suhita.

“InsyaAllah akan diagendakan lagi nobar film Hati Suhita. Karena masih banyak yang DM ke saya setelah pendaftaran ditutup akibat keterbatasan tempat duduk,” kata Bunda Fitri menambahkan.

Bunda Fitri berharap setelah nobar film Hati Suhita ingin mengajak generasi milenial ikut mengampanyekan indahnya kehidupan di lingkungan pesantren.

Kata Bunda Fitri, pemeran dalam film Hati Suhita tidak ada yang antagonis. Sosok pemeran dalam film itu sesuai dengan kondisi realitas di dunia pesantren.

Nobar Film Hati Suhita
Foto Bareng dengan Bunda Fitri dan suasana penonton di dalam Studio I Bioskop New Star Cineplex (NSC) Ultima Sumenep, Selasa pagi, 30 Mei 2023.

Menurutnya, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari alur cerita film Hati Suhita. Misalnya, keikhlasan Alina Suhita menerima Gus Birru sebagai suami meski melalui proses perjodohan. Sebab, mereka yang akan menjalankan peran dan tugas sebagai penerus pesantren.

“Kekuatan hati dan kebesaran hati Alina menerima takdir perjodohan menjadi kekuatan dalam menghadapi sikap dingin suaminya, Gus Birru. Alina tidak egois dalam mengambil keputusan selama menjalani rumah tangga dengan Gus Birru. Alhasil, keteguhan hati Alina berbuah manis,” terang Bunda Fitri mereview film Hati Suhita.

Lanjut Bunda Fitri, didikan dan pelajaran pesantren terpancar dalam film Hati Suhita. Seperti perempuan harus kuat, sabar, dan memiliki kebesaran hati.

Asumsi luar, kehidupan dunia pesantren dianggap sebagai lembaga salaf yang lambat untuk maju. Namun dalam film Hati Suhita, pemeran Alina berhasil meyakinkan Kiai Hannan yang bisa mengenalkan dunia pesantren kepada masyarakat luas.

Dalam amatan Bunda Fitri, kehidupan pesantren di Madura bisa berkembang. Melalui memaksimalkan potensi sumber daya manusia (SDM) yang ada. (*)

KPU Bangkalan