Menu

Selamat Jalan Bapak Soengkono (2)

Selamat Jalan Bapak Soengkono (2)
Dr Ir Soengkono Sidik, MSi; Wakil Bupati Sumenep 2010-2015. (matamadura)
Link Banner

Catatan Hambali Rasiid

Bicara kebaikan relatif. Begitu pun jika bicara prestasi.

Bagi saya. Prestasi almarhum Soengkono Sidik dan Novi Sujatmiko tergolong orang hebat.

Tak semua orang bisa. Walau di-maqom-nya.

Bagaimana Pak Soengkono mampu meniti karir dari seorang staf PNS terus beranjak menjabat Kabag, Kepala Dinas hingga Wakil Bupati.

Begitu pun Mas Novi Sujatmiko. Dari karyawan biasa di BPRS. Terus dipercaya sampai menjabat Kabag Operasional.

Terakhir almarhum menduduki orang nomor satu di PT BPRS Bhakti Sumekar.

Prestasi Mas Novi diakui banyak orang ketika menahkodai BPRS Bhakti Sumekar dalam tempo 10 tahun.

Aset PT BPRS Bhakti Sumekar bisa tembus di angka Rp 1 triliun. Padahal, Pemkab Sumenep hanya memberi penyerataan modal Rp 96 miliar (laporan keuangan 2019).

Apa kebaikan kedua almarhum?

Saya punya kesaksian atas kebaikan almarhum Soengkono Sidik dan Novi Sujatmiko.

Kesaksian itu apa yang saya saksikan dan dengar langsung dari seseorang yang menikmati kebaikan almarhum.

Saya mulai dari almarhum Soengkono Sidik.

Waktu menjabat Kepala Dinas PU Bina Marga Sumenep. Ketika itu masih orde baru dan awal orde reformasi.

Aturan birokrasi tak begitu rumit. Asal punya ijazah dan keahlian. Mudah diangkat menjadi PNS.

Nah..almarhum Seongkono banyak membantu. Tak terhitung jumlah orang yang sudah diangkat jadi PNS perantara almarhum.

Jumlahnya lumayan.

Pengakuan orang itu dibantu murni jadi PNS. Tanpa embel-embel.

Karena orang-orang itu punya keahlian yang disukai almarhum. Atau orang tak mampu yang emang butuh pekerjaan. Sehingga hati almahum terketuk untuk membantunya.

Bagi yang punya keahlian di dunia musik dan yang punya prestasi di bidang olah raga. Langsung disuruh pakai seragam kantor. Tak butuh lama diangkat menjadi PNS.

Ada juga yang murni karena sarjana teknik. Waktu itu. Sarjana teknik lulusan universitas ternama seperti ITS. Masih langka.

Maka tak heran. Saat hendak mau nyalonkan Wakil Bupati Sumenep di Pilkada 2010.

Terdengar sayup-sayup sikap girang dari para PNS Pemkab. Terutama para pegawai Dinas PU Bina Marga dan mantan pegawai PU Bina Marga yang berdinas di OPD lain.

“Berharap Bapak Terpilih,”.

Begitu mereka-para PNS-menyebutya Bapak kepada Soengkono Sidik. Sebutan Bapak ternyata punya makna. Mereka secara eksplisit ingin menegaskan pernah dibesarkan oleh almarhum.

Benar. Setelah ditelusuri mereka mengaku banyak dibantu oleh Pak Soengkono. Baik dari pekerjaannya. Maupun soal karir PNS-nya.

 

Selamat Jalan Bapak Soengkono (2)

Salah satu anak buah almarhum Soengkono adalah Edy Rasiyadi yang kini menjabat Sekda Sumenep. Juga banyak ‘anak’ almarhum hingga kini menduduki posisi eselon.

Terlepas dari kekurangan selama hayatnya. Almarhum Soengkono senang bantu orang.

Waktu itu. Saya iseng main ke rumah pribadinya. Saat menjabat Kepala Bappeda.

Saya ajak aktivis mahasiswa bertamu. Tapi saya sembunyikan identitasnya.

Saya memperkenalkan si aktivis itu sebagai santri. Sedang kuliah di Sumenep. Butuh kegiatan yang bisa mengurangi beban orang tuanya.

BACA JUGA: Soengkono Sidik & Novi Sujatmiko (1)

Tanpa banyak pikir. Almarhum langsung nunjuk beberapa kegiatan yang cocok untuk anak kuliahan.

Saya dan aktivis itu suruh datang ke kantornya. Di ruang Kepala Bappeda. Saya ditemui. Sekaligus dipertemukan dengan anak buahnya di bidang yang memiliki program penelitian.

“Ini ada lima kegiatan penelitian. Silahkan kerjakan,” ucap Pak Soengkono.

Si aktivis tak menduga. Dia berpikir hanya akan diajak ngobrol sana sini. Disuguhi air dan teh kotak. Setelah itu pulang.

“Eh..baik benar Pak Soengkono. Belum kenal, sudah diberi program,” timpal si aktivis itu setelah keluar dari ruangan Pak Soengkono.

Lain waktu saya iseng main lagi ke ruangan Pak Soengkono. Saya iseng curhat orang yang tak punya pekerjaan. Ingin jadi pegawai honorer di Bappeda.

Pak Soengkono bilang begini. “Duh gimana ya, dik. Tak ada anggaran untuk pegawai honorer. Begini saja. Biar saya gaji dari uang pribadi saya setiap bulannya,”.

“Ok, pak. Makasih,”

Setelah itu saya pamit.

Di jalanan saya berpikir tak elok memaksa. Saya putuskan tak melanjuti renca bantu orang kerja di Bappeda.

Alm Soengkono bukan kelahiran Sumenep. Dia lahir di Jember. Istrinya juga luar Madura.

Tapi, saat purna dari Wabup Sumenep. Almarhum betah tinggal di Sumenep. Hingga almarhum dikebumikan di bumi Sumenep.

Itu sebenarnya salah satu bukti bahwa almarhum sudah mencintai Sumenep.

Almarhum tak bisa melepas kerinduan ke Sumenep. Sebagaimana orang-orang yang secara tak langsung ‘dinafkahi’ oleh alm Soengkono. Karena bisa dapat penghasilan bulanan yang dinikmati oleh istri dan anak-anaknya.

Selamat Jalan Pak Soengkono.

Semoga kebaikan Bapak menjadi saksi di hari hisab nanti..

Bersambung besok...

Kebaikan Mas Novi Sujatmiko (lanjutan)

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

MMN

Catatan

Tasawuf

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: