CatatanPolitik

M Syukri; Merawat Amanah Muassis, Menjemput Masa Depan PPP Sumenep

×

M Syukri; Merawat Amanah Muassis, Menjemput Masa Depan PPP Sumenep

Sebarkan artikel ini

Oleh: Hambali Rasidi

DI LUAR prediksi publik. M. Syukri dilantik sebagai Ketua DPC PPP Sumenep. Publik bertanya. Bagaimana nasib politik PPP Sumenep? Apa yang harus dilakukan Syukri?

Seperti biasa. Syukri merespons dengan rendah hati. Baginya. Penunjukan sebagai Ketua DPC PPP Sumenep merupakan bagian dari amanah para muassis dan sesepuh kiai PPP yang harus dirawat.

“PPP kan media perjuangan politik para kiai dan umat Islam. Kami ini diberi amanat untuk merawat, tidak lebih seperti itu,” tutur Syukri merendah saat dimintai tanggapan setelah pelantikan.

Penetapan sosok Syukri memang sempat dipertanyakan publik. Maklum, dia bukan putra seorang kiai besar yang selama ini dikenal luas di Sumenep. Namun, publik bisa jadi belum banyak mengenal jejak pengabdiannya.

Lima puluh tahun lalu. Syukri lahir dan besar dari keluarga sederhana di Pulau Kangean, Sumenep. Saat remaja. Syukri nyantri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Di pondok itu, Syukri terasa mendapat asuhan langsung dari alm KHR. Fawaid As’ad.

Di pesantren, Syukri bukan sekadar mendalami kitab-kitab klasik. Dia juga aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Situbondo. Dari ruang aktivis itu, Syukri membangun jejaring pengabdian bersama para kiai, ustadz, dan senior di lingkungan pesantren. Semua ia dijalani tanpa pernah menghitung balasan.

Selepas mondok. Syukri kembali ke Pulau Kangean. Ia mengabdikan diri sebagai guru di Pondok Pesantren Al Hidayah, Kecamatan Arjasa. Di masa pengabdian itu, Syukri juga ikut menggerakkan organisasi Nahdlatul Ulama sebagai pengurus PCNU Kangean. Dari ruang-ruang pengabdian itulah jejaring sosial dan organisasi yang dimilikinya tumbuh secara alami.

Hingga datang sebuah momentum. Pileg 2014. Syukri mendapat amanah untuk maju sebagai calon legislatif dari PPP di Daerah Pemilihan Kangean-Sapeken.

Di luar dugaan. Kepercayaan itu berbuah kemenangan. Syukri terpilih menjadi anggota DPRD Sumenep. Dan berlanjut di Pileg 2019. Di luar dugaan pula. Pada 2021, Syukri dipercaya menduduki kursi Wakil Ketua DPRD Sumenep melalui mekanisme PAW. Amanah itu kemudian berlanjut hingga hasil Pileg 2024.

Di internal partai, sejak 2016 Syukri mengemban amanah sebagai Sekretaris DPC PPP Sumenep. Hampir satu dekade ia berada di balik layar. Mengurus organisasi. Menjaga komunikasi antar kader. Menyelesaikan berbagai persoalan internal yang datang silih berganti.

Posisi sekretaris ternyata memberi ruang tersendiri untuk melihat partai dari dekat. Ia tahu kapan organisasi harus bergerak cepat. Kapan harus menahan diri. Kapan harus merangkul. Dan kapan harus menyatukan perbedaan. Pengalaman itulah yang tidak selalu terlihat publik, tetapi justru menjadi sekolah politik yang sesungguhnya.

Karena itu, ketika DPP PPP mempercayakan kepadanya memimpin DPC PPP Sumenep periode 2026–2031, amanah itu bukan datang secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang telah dilaluinya. DPP tentu memiliki pertimbangan sendiri. Syukri dinilai memahami organisasi, mengenal para kader hingga tingkat bawah, serta mampu menjaga hubungan dengan para muassis, sesepuh partai, dan kalangan pesantren.

BACA JUGA :  Soto Campor dan Gaya Kiai Busyro Mendongkrak Ekonomi Warga

Namun, Syukri juga menyadari tantangan yang dihadapinya tidak ringan. PPP hari ini hidup di zaman yang berbeda. Cara masyarakat memandang politik berubah. Cara anak-anak muda berkomunikasi pun berubah.

Karena itu, yang ingin ia bangun pertama kali bukan sekadar kerja politik menjelang pemilu. Melainkan membenahi rumah sendiri. Konsolidasi organisasi harus diperkuat. Struktur partai harus hidup. Komunikasi antarkader harus terus terjaga. Sebab partai yang kuat selalu berawal dari organisasi yang sehat.

Di sisi lain, Syukri melihat generasi muda sebagai kekuatan yang harus dirangkul. Menurutnya, mereka perlu diberi ruang untuk membawa gagasan baru, memanfaatkan teknologi, dan menghadirkan PPP lebih dekat dengan masyarakat melalui ruang-ruang digital. Baginya, menjaga tradisi tidak pernah bertentangan dengan menerima perubahan.

Meski demikian, ada satu hal yang tidak pernah berubah dalam dirinya. Hubungan dengan pesantren. Sebagai alumnus Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, ia meyakini bahwa politik tanpa adab hanya akan kehilangan arah. Dari pesantren ia belajar tentang keikhlasan, kesabaran, tanggung jawab, dan cara menghormati guru serta para kiai.

Nilai-nilai itu pula yang ia bawa dalam membangun hubungan dengan para muassis dan sesepuh PPP. Bagi Syukri, mereka bukan hanya pendahulu partai, melainkan penjaga nilai-nilai perjuangan yang harus terus dirawat. Sebab sebuah partai tidak cukup hanya berganti kepengurusan. Ia juga harus mampu menjaga ruh perjuangannya.

Karena itu, di hadapan kader, Syukri tidak banyak berbicara tentang politik yang gemerlap. Ia lebih memilih menghidupkan organisasi. Menguatkan DPC dan PAC. Merangkul badan otonom. Menggerakkan kader hingga ke desa-desa. Sebab ia percaya, partai tidak dibangun oleh satu orang, melainkan oleh orang-orang yang mau bekerja bersama.

Ke depan, cita-citanya sederhana. PPP Sumenep harus tetap menjadi rumah perjuangan politik umat. Tetap dekat dengan pesantren, terbuka terhadap generasi muda, mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi tidak kehilangan jati dirinya.

Mungkin itulah mengapa Syukri tidak banyak berbicara tentang dirinya. Ia lebih sering berbicara tentang amanah. Tentang para muassis. Tentang para kiai. Tentang kader. Sebab, bagi dirinya, kepemimpinan bukan soal berada di depan, melainkan memastikan perjuangan tetap berjalan.

Barangkali, dari situlah jalan yang dipilihnya bermula: merawat amanah para muassis, sembari menyiapkan PPP Sumenep menjemput masa depan.

Tinggalkan Balasan