Menu

KHR Kholil As’ad Situbondo

KHR Kholil As’ad Situbondo
Penulis saat mencium tangan KHR Kholil As'ad Situbondo waktu di kediaman Cabup Fattah Jasin, Sabtu (14/11/2020).
Link Banner

Catatan: Hambali Rasidi

matamaduranews.com-KHR Kholil As’ad kini jadi perbincangan. Mereka membincangkan karena kiai asal Situbondo ini, mendukung Paslon Nomor 2 di Pilkada Sumenep 2020.

Dukungan KHR Kholil As’ad terhadap Pasangan Calon (Paslon) dipertegas kembali waktu KHR Kholil bersilaturrahmi di rumah Cabup Fattah Jasin, Sabtu (14/11/2020).

Dukungan politik terhadap Paslon bukan kali ini saja. Setiap kontestasi pemilu, beliau pasti menjatuhkan dukungan. Kepada yang dikehendaki.

Saat Pilkada Sumenep 2010, KHR Kholil As’ad menjatuhkan dukungan kepada Paslon Azasi-Eva. Paslon ini diusung PKNU dan parpol lain.

Begitupun saat Pilkada 2015. KHR Kholil As’ad mendukung Paslon Zainal Abidin-Eva.

Waktu Pilgub Jatim 2018, KHR Kholil As’ad mendukung Syaifullah Yusuf-Putih.

Begitu pun saat Pilpres 2019, KHR Kholil As’ad mendukungan Prabowo-Sandiaga.

Dari sederet dukungan itu. Banyak yang berkomentar bahwa Paslon yang didukung KHR Kholil As’ad tak pernah menang.

Pernyataan mereka bagi saya tak nyambung dan tak begitu urgent.

Kenapa? KHR Kholil As’ad bukanlah Tuhan yang bisa menentukan Paslon harus menang.

Setidaknya-seperti yang selalu didawuhkan KHR Kholil As’ad – menjatuhkan pilihan dukungan kepada salah satu Paslon di pemilihan kepala pemerintahan mempertimbangkan azas maslahat.

Begitu pun dukungan Gus Dur saat menjabat Ketua PKB. Beliau seringkali mendukungan Paslon di Pilgub dan Pilkada banyak yang tak menang.

Seperti, saat Gus Dur mendukung Pasangan Achmadi-Suhartono (Ahsan) di Pilgub Jatim 2008.

Juga saat mendukung Paslon Taufikurrahman Saleh-Soetarto di Pilkada Lamongan 2005.

Kendati dukungan KHR Kholil As’ad kepada Paslon banyak yang tak menang.

Kenapa dukungan KHR Kholil As’ad masih diperebutkan?

Itu yang saya sebut di atas kesimpulan mereka tak relevan.

Sejumlah konsultan politik menemukan jawaban.

Getaran dukungan KHR Kholil As’ad terhadap Paslon di Pilkada Sumenep mencapai 20% dari DPT.

Dengan syarat, dukungan KHR Kholil As’ad tak pasif.

Dari 20% itu, sebanyak 85-90% ikut pilihan KHR Kholil As’ad.

Memang tidak 100% ikut patuh atas pilihan KHR Kholil As’ad.

Tapi, angka 85-90% dari 20% jumlah DPT sangat fenomenal. Padahal, KHR Kholil As’ad bukan tokoh pesantren yang bermukim di Sumenep.

Bagaimana dengan tokoh lokal Sumenep?

Konsultan juga menemukan angka getaran yang mempengaruhi pemilih.

Tokoh yang memiliki getaran tinggi itu versi konsultan ada KH Thaifur Ali Wafa, Ambunten dan KH A. Busyro Karim, Bupati Sumenep.

Dua tokoh ini diklaim konsultan memiliki pengaruh besar di bawah 10% asal bergerak aktif menyuarakan dukungan.

Dukungan tokoh sebagai vote getter dalam politik praktis bukan segalanya. Karena pemilih banyak berpikir pragmatis.

Politik di era demokrasi langsung kerap menabrak nilai-nilai kultur yang lama ditanam. Pemilih banyak berpijak kepada rasionalisme dan pragmatisme.

Tidak ada yang salah dalam event kontestasi pemilihan langsung. Sistem pemilihan itu sengaja didesain demikian.

Apakah nilai-nilai keimanan kita sebagai muslim akan digadaikan dalam kepentingan politik praktis?

Setidaknya pesan yang selalu ditebar
KHR Kholil As’ad adalah kita harus berpijak atas kehendak Allah. Berharap takdir Allah menyertai Paslon yang didukung.

Bagi KHR Kholil As’ad. Dia Allah yang memiliki Arasy yang Agung.

“Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki,”…

Menguatkan keimanan atas kekuasaan Allah bagian dari cara KHR Kholil As’ad mengajak ummat untuk selalu bersandar atas kehendak dan kekuasaan Allah.

Bukan kekuatan atau kekuasaan selain Allah yang menjadi sandaran.

Pesan KHR Kholil As’ad di atas kerap kali saya dengar dari lisan para kiai dan ulama saya berceramah.

Pesan itu sebagai ajaran Islam. Nabi Muhammad Saw sejak diutus Allah menyebarkan Islam selalu menyampaikan kepada umatnya agar terus bersandar kepada kekuasaan Allah.

Saat itu, kekuatan umat Islam tak sebanding dengan kekuatan pasukan yang memusuhi Islam.

Dengan bersandar atas kehendak dan kekuasaan Allah. Umat Islam selalu mengalami kemenangan.

Dan Islam bisa tersebar ke penjuru dunia.

Bagi mereka yang tak memiliki sambungan bathin dengan KHR Kholil As’ad-hal wajar menilai biasa-biasa saja.

Sama dengan saya yang tak pernah nyantri.

Nama KHR Kholil As’ad hal biasa karena beliau bukan guru saya.

Saya sering melihat beliau dari kejauhan. Saat berceramah di Sumenep. Saya nilai isi ceramahnya biasa saja. Tak ada yang asing karena kerap disampaikan oleh para penceramah.

Saat beliau ceramah yang bikin banyak jamaah menangis. Saya merasa biasa biasa saja. Tak ada getaran yang menyentuh reluh hati saya.

Banyak santri dan pengikut jamaah Shalawat Nariyah yang bercerita tentang kelebihan KHR Kholil As’ad. Hati saya masih belum tertarik.

Kanan kiri kehidupan saya sering bercerita sosok KHR Kholil As’ad.

Salah satunya Ibu saya. Ibu-sosok yang saya hormati karena jasanya mengandung dan melahirkan saya.

Sejak saya kecil, ibu selalu bercerita KHR As’ad Syamsul Arifin, KHR Fawaid As’ad dan KHR Kholil As’ad.

Pesan ibu, anak-anaknya agar menaruh hormat kepada putra gurunya. Meski tak nyantri langsung. Ibu mewanti putra-putranya agar manaruh hormat kepada keluarga besar gurunya.

Ibu bercerita. Saat KHR Fawaid masih belia-ibu sering mengasuhnya. Maklum ibu sempat jadi ustadzah di pesantren Sukorejo dan akrab dengan putri putri KHR As’ad Syamsul Arifin.

Nyai Zaenab-ibu KHR Kholil As’ad juga tak luput dari cerita ibu. Maklum, Nyai Zaenab sebelum diperistri KHR As’ad menjadi ketua kamar pondok. Satu ruangan dengan ibu.

Cerita cerita itu sering didengar sejak saya SD. Tapi tak ada besitan hati untuk mondok di Sukorejo atau di Wali Songo.

Entah kenapa. Awal Agustus 2020. Saya diajak Fattah Jasin untuk ikut ke Wali Songo, Situbondo. Menemui KHR Kholil As’ad.

Saat bertemu itu. Saya langsung menemukan aliran energi baru. Relung hati saya membuncah. Terbayang wajah ibu. Cerita-cerita ibu tentang KHR As’ad dan KHR Kholil As’ad.

Tak terhitung saya mencium tangannya. Hati terasa damai jika disandingnya.

Di perjalanan pulang. Wajah KHR Kholil As’ad selalu membayangi. Saya menangis ingat ibu yang sudah tiga tahun meninggalkan anak-anaknya.

Beberapa jam keluar dari Wali Songo. WhatsApp saya menerima pesan suara masuk.

Nomor baru itu memperkenalkan nama Yaqin. Lebih tepatnya Lora Ainul Yaqin-salah satu putra KHR Kholil As’ad yang berdomisili di Pulau Kangean.

Ra Yaqin ingin menyambung komunikasi terkait dukungan beliau (KHR Kholil As’ad,red) kepada Fattah Jasin-Kiai Ali Fikri.

Saya jadi bingung. Sebelumnya tak pernah komunikasi dengan Lora Yaqin.

Lewat pertemuan itu, seperti ingin merajut cerita-cerita ibu. Anak-anaknya diharap bisa menjalin komunikasi bathin terhadap keluarga besar gurunya.

Bagi saya, Pilkada Sumenep 2020 sudah selesai.

Tanpa menunggu 9 Desember. Saya sudah merengkuh. Cerita-cerita ibu sudah saya rasakan. Mencicipi manisnya. Ada cinta dan rindu yang menggelora dalam bathin.

Tak perlu menunggu siapa Paslon yang bakal dilantik.

Sumenep, 15 November 2020

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Lowongan

Hukum & Kriminal

Ra Fuad Amin

Disway

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: