Menu

Pilkades di Kepulauan

Pilkades di Kepulauan
Link Banner

Catatan: Hambali Rasidi

HARI INI, saya naik kapal rute Kalianget-Sapudi.

Di pintu masuk dermaga, sudah ada yang nyeletuk, “wah ini bandar Pilkades,”. Saya hanya membalas dengan senyuman.

Naik ke atas kapal. Tambah banyak yang tanya. Macam-macam. “Mau liputan, apa dukung calon, mas,” tanya Yek,-teman karib-sambil membisik di tengah obrolan dengan para ‘pemain’.

Saya kaget tafsir banyak orang. Padahal, saya hanya ingin nyekar ke makam ibu. Kangen. Ingin dipeluk hangat kasih sayang seorang ibu.

Hanya kebetulan momentum pulang berbarengan jelang jadwal Hari H Pilkades serentak di Kepulauan Sumenep 2019. Kamis, 14 November.

Di atas kapal berjibun penumpang. Bingung cari tempat. Semua kamar penumpang full. Di lorong-lorong juga diisi penumpang.

Beruntung ada kenalan. Sekcam Nunggunong dan para Kasi Kecamatan. Diberi tempat walau berdesakan.

Efek Pilkades di Kepulauan bisa dilihat dari berbagai sisi. Saya tertarik melihat fenomena isu money politik. Yang berbeda dari Pilkades 6 tahun lalu. 21 tahun lalu. Dan 30 tahun lalu.

Pilkades 30 tahun lalu. Masyarakat tak kenal money politik. Yang dikenal masyarakat bawah adalah figur atau sosok yang bisa mengayomi. Sosok yang mudah melayani rakyatnya.

Fenomena itu tetap melekat pada kurun 21 tahun lalu. Walau ada tambahan syarat. Sango sekadarnya. Untuk bisa nyoblos. Rp 10 ribu per orang.

Pilkades 6 tahun lalu sudah bercampur aduk. Harapan kepada sosok pelayan. Sosok yang bisa membangun desa. Sosok pengayom dari gejolak keamanan. Bercampur dengan permainan ‘sango coblosan’. Walau besaran 25,30-50.

Fenomena Pilkades 2019 kian miris. Para bakal calon sudah menabur umpan sejak setahun lalu. Di sebuah desa. Yang hanya punya 4 TPS saat Pileg.

Figur yang ramai dibicarakan rakyatnya. Saling menabur umpan. Penantang baru mulai ngasih sadaqah Rp 100 ribu. Dibalas dengan incumbent sadaqah Rp 100 ribu.

Saling umpan terus berlanjut. Entah berapa kali sadaqah politik itu. Anda bisa hitung sendiri. Sejak setahun lalu.

Resmi ditetapkan sebagai Calon Kades. Situasi di desa itu kian tegang. Tak ada ekspose berita. Tak ada rilis dari kepolisian. Hanya lihat di medsos.

Unggahan Facebook netizen lokal. Sapi yang di kandang warga disembelih orang tak dikenal. Ada kandang sapi warga yang dibakar.

Soal besaran money politik hanya rasan. Mulut ke mulut. Hingga H-3 hanya terdengar angka 200,300,500. Itu untuk pemilih.

Khusus agen pemilih di Pilkades 6 tahun lalu, besarannya beda. Ada Rp 5 juta. Rp 10 juta. Agar bergerak. Atau diam.

Pilkades 2019 di Pulau Sapudi. Para timses tak sedinamis enam tahun lalu.

Di Pulau Kangean terdengar money politik Rp 1 juta per suara. Yang komen di media online, aktivis LSM, M Riyadi.

Entah apa yang merasuki para Calon Kades. Begitu total ingin memenangkan.

Barangkali, banyak gula. Setelah Otonomi Desa diberlakukan empat tahun lalu. Miliaran rupiah dana desa mengucur tiap tahun.

Wajar jika ada laporan LSM soal Harga Satuan Barang di RAB pekerjaan DD, ada yang di atas 50% dari harga pasar lokal. Lain lagi soal kualitas pekerjaan yang tak menggunakan uji laboratorium. Dikerjakan asal-asalan. Yang penting tidak fiktif. Walau dikerjakan lewat tahun. Tahun berikutnya.

Lain yang non fisik. Ada temuan dari inspektorat untuk dikembalikan ke kas desa. Nilainya ratusan juta rupiah. Di atas setengah miliar rupiah.

Tapi akses itu tak jelas. Karena sistem keuangan desa (Siskeudes) masih belum online di desa. Siskeudes hanya online di tingkat kabupaten.

Sebagai opsi melahirkan produk Pilkades Berkualitas, kata Bupati Sumenep. Siskeudes dionline-kan semua desa.

Biar akses APBDes transparan. Sebagaimana APBD Sumenep yang menerapkan e-budgeting. (hambali rasidi)

Pulau Sapudi, 10 November 2019

Bagikan di sini!
KOMENTAR

1 Komentar

  1. Soemarda Paranggana Ahad, 10 November 2019

Iklan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Kerapan Sapi

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional