Menu

Gus Idris, Keturunan Sultan dan Kiai Ali Brambang itu Tinggalkan Kita

Gus Idris, Keturunan Sultan dan Kiai Ali Brambang itu Tinggalkan Kita
Gus Idris

matamaduranews.comGus Idris wafat. Begitu banyak grup WA mengabarinya. Minggu malam.

Ada puluhan Grup WA saya lihat yang mengabarkan mantan Pj Sekda Sumenep itu meninggal dunia.

Hampir semua anggota Grup WA memberi kesaksian bahwa almarhum Raden Idris orang baik. Mereka mendoakan almarhum. Diampuni dosa-dosanya dan diterima amal baiknya.

“InsyAllah syurga tempatnya,” begitu komentar para anggota di berbagai Grup WA Sumenep.

Sosok almarhum memang populer di kalangan birokrasi Pemkab Sumenep.

Kepribadian almarhum sederhana. Selalu mengumbar senyum kepada banyak orang. Menghargai aneka tipe orang. Nyaris diterima semua kelompok dan kepentingan.

Saat menjabat Pj Sekda Sumenep hampir dua tahun. Kondisi pemkab nyaris tanpa riak-riak. Banyak orang segan. Terutama di kalangan ASN Pemkab Sumenep.

Sepintas, gaya kepemimpinannya normatif. Sebagaimana gaya khasnya. Santai. Tapi tak menimbulkan percikan. Dan roda birokrasi Pemkab Sumenep berjalan tanpa letupan-letupan.

Eks Bupati Kiai Busyro juga menaruh hormat kepada Gus Idris. Meski bawahan secara hirarki Pemkab.

Sosok Gus Idris emang berkharisma. Tapi banyak orang menilai Gus Idris kurang tepat bila terjun ke dunia politik yang menganut sistem liberalisme kapital saat ini.

Padahal, banyak para kiai dan elemen masyarakat yang mendorong Gus Idris tampil sebagai Cabup maupun Cawabup dari setiap menjelang event Pilkada.

Selain sosok berkharisma. Gus Idris dinisbatkan sebagai perwakilan kelompok keluarga keraton Sumenep dan keluarga kiai berpengaruh.

Dari nasab ayah dan ibunya, Gus Idris bersambung dengan Kiai Ali Brambang dan Sultan Abdurrahman (salah satu Raja Sumenep).

Dalam catatan RB Roeska dan RB Farhan, Gus Idris masih keturunan ke 5 dari Sultan Abdurrahman.

Gus Idris bin RB Moh. Saleh bin RB Abdul Alim bin RB Hambal (Penghulu Miftahul Arifin II) bin R Ajeng Zubaidah bin Pangeran Le’nan (Pangeran Letnan Kolonel Ario Moh. Hamzah) bin Sultan Abdurrahman.

Dari jalur Kiai Ali Brambang, jalur Gus Idris bin R.B. Moh. Saleh bin R. B. Abdul Alim bin R.B Hambal (Penghulu Miftahul Arifin II) bin Kiai Muharrar (Penghulu Miftahul Arifin I) bin K. Daud bin Nyai Tenggina bin Kiai Ali Brambang.

Banyak orang menilai Gus Idris sebagai kiai. Walau tak memiliki santri lazimnya pondok pesantren. Tapi almarhum aktif mengajar beberapa kitab kepada para santri di mushollah peninggalan ayahnya.

Kabar Gus Idris wafat menyebar seperti banyak yang kehilangan.

Saya menerima informasi. Kata keponakan almarhum yang disampaikan kepada Kepala Rumah Tangga Bupati, Moh. Ilyas.

Kata Ilyas, sehari sebelumnya Gus Idris mengabari kepada santrinya (bindhare,red) jika umurnya tinggal sehari. Dan akan meninggal setelah khotmil qur’an. (marena hataman quran,red).

Santrena acareta jhek ghik ngantos hataman ben mamare asiyam iya bang ini buru mare abuka, pas hataman ben bindere pas langsung tadek omor,, be erik om la abele jek omorra sengkok kare lagguna pas aberrik wasiat,”

Saya tak bisa menilai ketakwaan Gus Idris. Memang Allah menyeru dalam alquran……”Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang siap orang yang bertakwa,”… (An Najm : 32)

Hanya, saya pernah menaruh curiga kepada Gus Idris. Seperti ada ilmu yang disembunyikan.

Ketika itu berawal saat Gus Idris menyentil kalimat, “semut hitam di atas batu hitam dalam kegelapan malam,”.

Sentilan itu disampaikan saat beliau menjabat Kepala Bappeda Sumenep.

Waktu itu. Saya hendak menemuinya di ruang kerjanya terkait prestasi inovasi Pemkab Sumenep yang mendapat juara inovasi dalam ajang Jawa Pos Pro Otonomi Award (JPIP).

Pertemuan itu, bukan materi dipaparkan. Pengantar pertemuan itu langsung menyinggung semut hitam di atas batu hitam.

“Bagaimana semut hitam di atas batu hitam?,” tanyanya.

Saya kaget. Kok ada pertanyaan itu. Saya lalu tanya, “lho sampean baca tulisan itu, Gus?,”.

“Hehhe…Bagaimana semut hitam…,” timpal Gus Idris terus memancing.

Saya menoleh ke teman yang diajak dalam pertemuan itu.

Lalu saya sampaikan, “Itu hanya dipahami orang-orang yang mengerti atas keberadaan semut hitam,”

“Hehhe…,” jawab Gus Idris.

Sejak pertemuan itu, saya langsung curiga kepada Gus Idris. Ada ilmu warisan kiai kuno yang dimilikinya. Tapi disembunyikan.

Saya menyimpulkan itu karena saya dengar dari cerita seseorang bahwa yang ngerti istilah semut hitam itu hanya kiai lambek (kiai tempo dulu,red.).

Saya tak sempat bertanya apa maksud kiai lambek dari orang yang bercerita itu.

Saya kaget sekaligus penasaran ingin diskusi lebih jauh tentang pengertian Gus Idris yang dimaksud semut hitam di atas batu hitam dalam kegelapan malam.

Ketika saya menghaturkan hendak bermain ke rumahnya. Beliau selalu nanya keperluannya.

“Kalau mau ngobrol di kantor saja,” jawabnya sambil tersenyum manis sebagai ciri khasnya.

Rumah Gus Idris menempati peninggalan abah dan kakek buyutnya, Pangeran Letnan. Tinggal di rumah pecinan, peninggalan bangunan Sumenep tempo dulu.

Saya baru ngerti rumah yang ditempatinya saat sore-sore. Mengantar teman hendak minta tandatangan dari Sekda karena waktu mepet dan jelang penutupan anggaran. Akhir Desember 2017.

Saat menjabat Pj Sekda. Saya sering main ke ruang kerjanya.

Pernah suatu waktu. Saya bawa berkas yang mau ditandatangani atas nama Sekda.

Usai ditandatangani, saya bilang begini, “honor sampean ketinggalan, Gus,” saya ngetest dengan pura-pura bingung nyaris amplop honor Sekda.

Gus Idris lalu menimpali, “Ya itu ambil kamu,” ..

“hehe..Ini ada Gus. Terselip di tas,” jawabku..

“Sudah ambil kamu,” Gus Idris tetap tak mau menerima honor resmi. Honor itu tertuang dalam SK Kegiatan.

“Saya jarang bantu kamu,” ucap Gus Idris seperti ingin bercerita lain.

Tapi karena di luar banyak tamu. Saya pamit.

Sikap sosial dan solidaritas almarhum diakui banyak orang.

Kendati menduduki banyak jabatan. Kesehariannya sangat sederhana.

Tak berlimpah harta. Tapi almarhum selalu membantu. Selama bisa pasti dibantu orang-orang yang butuh.

Tak sedikit teman-teman bercerita. Jika Gus Idris sering nitip amplop untuk diberikan kepada anak yatim di sekitar rumahnya.

“Ini saya nitip seadanya untuk anak yatim di sekitar rumah kamu,” cerita salah satu wartawan yang sering dipanggil Gus Idris untuk mengambil jatah bulanan kemudian disalurkan kepada anak-anak yatim.

Selamat Jalan Gus Idris.

Senyum manismu selalu membayangi.

Usai shalat isya’ itu sampean menyapa dengan senyum khasnya. (hambali rasidi)

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

MMN

matajatim.id

Disway

Tasawuf

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: